1 Oktober 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya
Terjadi inflasi di Riau pada bulan September 2026 Pekanbaru, (1/10) - BPS Provinsi Riau mencatat pada bulan September 2026 Provinsi Riau mengalami inflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,64 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 113,54 pada Agustus 2026 menjadi 114,27 pada September 2026. Secara tahunan, pada September 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,79 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi y-to-d sebesar 1,84 persen. Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan (m-to-m) tertinggi adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,76 persen dengan andil sebesar 0,58 persen. Kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 0,55 persen dengan andil sebesar 0,03 persen dan kelompok transportasi sebesar 0,27 persen dengan andil sebesar 0,03 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m adalah cabai merah, ayam hidup, cabai rawit, mobil, ikan serai, akademi/perguruan tinggi, bensin, bawang merah, udang basah, telepon seluler, roti manis, ikan nila dan beberapa komoditas lainnya. Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m pada September 2026, antara lain: emas perhiasan, kentang, angkutan udara, bayam, tomat, terong, buncis, jeruk, ketimun, sawi putih/pecay/pitsai, kol putih/kubis, bawang putih dan kembang kol. Sedangkan kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang inflasi tahunan (y-on-y) terbesar kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,69 persen diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,62 persen, kelompok transportasi sebesar 0,59 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,32 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,20 persen, kelompok kesehatan dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan masing-masing sebesar 0,09 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,08 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,05 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga dan kelompok pakaian dan alas kaki masing-masing sebesar 0,03 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y adalah emas perhiasan, pemeliharaan/service, daging ayam ras, bensin, ayam hidup, cabai rawit, minyak goreng, ikan patin, ikan serai, nasi dengan lauk, Sigaret Kretek Mesin (SKM), ikan nila, telepon seluler, ikan lele, beras, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, sepeda motor dan beberapa komoditas lainnya. Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: cabai merah, bawang merah, jengkol, kentang, kol putih/kubis, sabun detergen bubuk, cabai hijau, tempe, buncis, petai, bawang putih, kacang panjang, sepatu pria, telur ayam ras, sabun mandi cair, sandal kulit wanita, gaun/terusan wanita, blus wanita, tarif kendaraan roda 4 online, mie kering instant dan beberapa komoditas lainnya. Menurut wilayah, secara bulanan tercatat seluruh kabupaten/kota IHK di Provinsi Riau mengalami inflasi. Tingkat inflasi m-to-m tertinggi terjadi di Kabupaten Kampar sebesar 0,82 persen dan terendah terjadi di Tembilahan sebesar 0,20 persen. Sedangkan secara tahunan tercatat seluruh kabupaten/kota IHK di Provinsi Riau mengalami inflasi secara y-on-y, tertinggi terjadi di Kampar sebesar 3,21 persen dan terendah terjadi di Kota Dumai sebesar 2,35 persen. Kinerja Positif Neraca Perdagangan Riau Nilai ekspor Riau Agustus 2026 mencapai US$2,22 miliar, naik 5,57 persen dibanding Agustus 2025. Nilai ekspor Riau Januari–Agustus 2026 naik 2,33 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan nilai ekspor ini terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang mencatat nilai ekspor sebesar US$14,19 miliar, atau naik 5,72 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif sejumlah kelompok komoditas di Riau masih berlanjut sepanjang JanuariAgustus 2026. Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Januari–Agustus 2026, lima komoditas mengalami peningkatan nilai ekspor dibanding Januari–Agustus 2025, dengan peningkatan tertinggi pada lemak & minyak hewan/nabati US$498,15 juta (6,37 persen). Sementara itu, komoditas yang mengalami penurunan adalah bubur kayu (pulp) US$158,42 juta (12,24 persen); buah-buahan US$37,43 juta (50,60 persen); bahan-bahan nabati US$14,11 juta (8,29 persen); serat stapel buatan US$5,00 juta (2,60 persen); serta berbagai makanan olahan US$4,89 juta (2,71 persen). Tiga besar negara tujuan ekspor Riau adalah Tiongkok, India, dan Malaysia. Share ketiga negara ini sekitar 35,42 persen dari total ekspor nonmigas Riau pada Januari–Agustus 2026. Tiongkok tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas nonmigas Riau dengan nilai mencapai US$2,66 miliar (18,78 persen), diikuti oleh India US$1,26 miliar (8,87 persen), dan Malaysia US$1,10 miliar (7,77 persen). Dari sisi impor, nilai impor Riau Agustus 2026 mencapai US$167,35 juta, naik 35,61 persen dibanding Juli 2025. Nilai impor Riau pada Januari–Agustus 2026 mencapai US$2,24 miliar atau naik 103,07 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini berasal dari sektor migas dengan nilai impor US$101,82 juta, naik 30,75 persen dan sektor nonmigas dengan nilai impor US$2,14 miliar, naik 108,56 persen. Dilihat dari sisi penggunaan, kenaikan impor terjadi pada ketiga golongan penggunaan barang, yaitu barang konsumsi, bahan baku/penolong, serta barang modal dengan kenaikan masing-masing sebesar 30,85 persen, 25,15 persen dan 1.102,21 persen. Sepanjang periode Januari–Agustus 2026, Prancis menjadi negara utama asal impor non migas Riau dengan nilai US$788,30 juta (36,83 persen), diikuti Tiongkok sebesar US$249,64 juta (11,66 persen), dan Vietnam sebesar US$206,69 juta (9,66 persen) Kinerja positif neraca perdagangan Indonesia kembali berlanjut. Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat neraca perdagangan barang Riau mengalami surplus US$12,37 miliar sepanjang periode Januari–Agustus 2026, atau turun US$805,42 juta dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara rinci, nilai ekspor Riau sepanjang Januari–Agustus 2026 tercatat US$14,62 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai US$2,42 miliar. Surplus sepanjang Januari–Agustus 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$12,05 miliar dan komoditas migas sebesar US$322,46 juta. Nilai Tukar Petani Riau Naik BPS Provinsi Riau mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Riau pada September 2026 tercatat sebesar 197,35 atau naik 1,39 persen dibandingkan Agustus 2026 sebesar 194,66. Peningkatan NTP ini disebabkan oleh Indeks Harga yang Diterima petani (It) naik sebesar 1,99 persen dan Indeks Harga yang Dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,60 persen. Kenaikan Indeks Harga yang Dibayar (Ib) didukung oleh Indeks Harga Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mengalami peningkatan sebesar 0,77 persen, dan indeks harga yang dibayar untuk keperluan biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,16 persen. Sejalan dengan kenaikan NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Riau mengalami peningkatan sebesar 1,83 persen, yaitu dari 189,41 pada Agustus 2026 menjadi 192,87 pada September 2026. Peningkatan NTP di Provinsi Riau pada bulan September 2026 terjadi pada tiga dari lima subsektor penyusun NTP, yaitu pada subsektor hortikultura yang mengalami peningkatan sebesar 1,99 persen, diikuti subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,46 persen, dan subsektor peternakan sebesar 0,89 persen. Sementara itu, subsektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,30 persen, diikuti subsektor tanaman pangan sebesar 0,28 persen. Pada September 2026, Provinsi Riau tercatat sebagai provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Pulau Sumatera, yaitu sebesar 197,35 setelah Provinsi Bengkulu yang memiliki NTP sebesar 206,79. Seluruh provinsi di Pulau Sumatera mengalami peningkatan NTP. Peningkatan tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 4,09 persen, sedangkan peningkatan terendah terjadi di Provinsi Sumatera Barat, yaitu sebesar 0,15 persen. Kunjungan Wisatawan Mancanegara Menurun Pada Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tercatat datang ke Provinsi Riau sebanyak 23.144 kunjungan, jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,08 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month) yang mencapai 22.452 kunjungan. Sebaliknya bila dibandingkan dengan Agustus 2025 kunjungan wisman mengalami penurunan sebesar 10,51 persen (year-on-year). Tingkat Penghunian Kamar Hotel Bintang Menurun BPS Provinsi Riau mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Riau pada bulan Agustus 2026 adalah 49,99 persen atau turun 1,19 poin dibanding TPK bulan Juli 2026 yang mencapai 51,18 persen. Sebaliknya, jika dibandingkan dengan TPK periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 43,68 persen mengalami kenaikan 6,31 poin. TPK hotel non bintang mengalami penurunan 0,43 poin dari 27,28 persen pada bulan Juli 2026 menjadi 26,85 persen pada bulan Agustus 2026. Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) pada hotel berbintang pada bulan Agustus 2026 selama 1,34 malam, naik 0,01 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Narahubung Media
Irfarial
BPS Provinsi Riau [email protected]

Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik Provinsi Riau (Statistics of Riau Province)Jl. Pattimura No. 12 Pekanbaru - Riau
Indonesia
Telp (62-761) 23042
Faks (62-761) 21336
Mailbox : [email protected]
Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik